Home » , » Paguyuban/Komunitas dalam Perspektif Pendidikan Nonformal

Paguyuban/Komunitas dalam Perspektif Pendidikan Nonformal

Written By Info PAUDNI on Sunday, December 16, 2012 | 7:31 PM





Pada jalur pendidikan nonformal kita mengenal adanya penyelenggaraan pendidikan yang dilakukan melalu Sanggar Kegiatan Belajar. Di sisi lain, masyarakat pun mendirikan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), lembaga kursus dan lembaga pelatihan, kelompok bermain, tempat penitipan anak dan sebagainya. Konsep dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat ini sebenarnya jika diberdayakan secara lebih akan membangkitkan potensi yang ada di masyarakat.

***

Awalnya perlu kita ketahui bahwa komunitas yang lahir dari masyarakat sebenarnya telah mempunyai ciri-ciri/indikator yang ada hubungannya dengan pemberdayaan. Jadi, komunitas bukan hanya sekadar ajang kumpul-kumpul dalam sebuah kegiatan hobi atau tujuan yang sama. Namun, komunitas ternyata menyimpan energi lebih untuk bisa memberdayakan diri dalam pengembangan potensi pengenalan kewirausahaan, pendidikan, dan keterampilan. Ciri utama komunitas yang memiliki kesepahaman bersama menjadi amunisi yang bisa mengarahkannya pada kegiatan pembelajaran sepanjang hayat dalam lingkup para anggotanya.

Potensi Pemberdayaan Sanggar Belajar Berbasis Komunitas

Secara konkret, Anda bayangkan jika di sebuah wilayah/masyarakat ada paguyuban/komunitas yang mempunyai komunikasi intens dan diisi dengan beragam latar belakang (usia, profesi, pendidikan, dll.). Pola pertemuan antar anggota komunitas biasanya dilakukan dalam momen tertentu, baik itu rutin maupun insidental. Namun pada hakikatnya, pertemuan yang terjadi bisa diarahkan untuk menciptakan sesuatu yang positif dan mendukung pendidikan nonformal-informal. Potensi yang bisa kita ambil dengan adanya pertemuan komunitas adalah:
1. adanya ruang berbagi pengetahuan/keterampilan/pengalaman;
2. terbukanya ruang berbagi/transfer ilmu diantara anggota.
3. terbukanya kegiatan untuk pelatihan (workshop), baik itu untuk keterampilan sendiri atau pendukung pekerjaan. 
4. adanya peluang untung menjalin kerjasama dengan lembaga lain yang menaruh perhatian pada peluang pemberdayaan (misalnya usaha)
5. Sumber daya manusia yang ada bisa diklasifikasikan sesuai potensi yang ada. Misalnya, ada yang sudah ahli dalam bidang tertentu, bisa melatih anggota lain; jika punya tempat, tempatnya bisa jadi basecamp/sekretariat; jika punya dana lebih bisa untuk investasi di komunitas. Konsep getok tular ilmu, keterampilan, dan fasilitas lainnya sangat potensial diberlakukan. 
6. jika ingin ada kekuatan hukum/formal bisa mendirikan badan usaha yang dikelola bersama (baik itu koperasi, CV, atau yayasan sekalipun)
7. jejaring potensi yang ada bisa dilakukan dengan memberdayakan anggota dengan konsep "multilevel marketing".
8. pengaturan di dalam komunitas tidaklah terlalu sulit, karena ada kesepahaman dari hati ke hari yang diberlakukan dalam aturan bersifat sosial (tidak tertulis). 
9. peluang penambahan anggota sangatlah terbuka, apalagi jika komunitas tersebut sudah bisa memberikan dampak positif bagi para anggotanya.

Sistem "kolaborasi" antara sanggar belajar/pelatihan dalam komunitas sebenarnya tinggal menyatukan saja. Hal ini disesuaikan dengan kebutuhan yang ada. Kita ambil contoh dengan komunitas yang menyukai buku/penulisan. Anggota yang ada biasa berkumpul, misalnya seminggu sekali. Saat kumpul diadakan pelatihan menulis dengan mendatangkan penulis yang sudah jadi (bisa saja anggota sendiri atau mengundang dari luar). Dalam pertemuan, ada pembahasan mengenai tulisan yang diharapkan dapat menghasilkan karya yang layak terbit. Ujicoba bisa dilakukan dengan mengirimkan ke media massa atau penerbit. Untuk membuka akses ke redaksi media massa atau penerbit, bisa saja meminta masukan (sharing) dari anggota yang memang kebetulan bekerja di bidang tersebut. Hal lainnya, komunitas tersebut bisa saja mendirikan lembaga usaha penerbitan rumah (skala kecil) yang menampung karya-karya anggotanya. Maka, pertemuan pembahasan penulisan dalam komunitas tersebut telah menghasilkan daya guna bagi anggota dan masyarakat di luar komunitas. Hal ini bisa juga diberlakukan pada komunitas lain, misalnya komunitas penghobi kerajinan, penggemar olahraga, jamaah pengajian, ekstrakulikuler di sekolah, dll. 

Jika berhubungan dengan masalah modal, bisa dilakukan dengan konsep urunan sesama anggota. Pendanaan bisa berasal dari ragam sumber lain juga, misalnya sumbangan dari para simpatisan, penjualan produk yang sudah ada, atau bekerjasama dengan lembaga lain yang ikut mendukung dalam pemberdayaan komunitas. Bahkan, pembuatan produk pun memberdayakan potensi yang ada dalam komunitas sendiri. Misalnya saat membuat buku ada yang memang ahli dalam bidang komputer diberdayakan untuk mendesain buku; yang ahli ketatabahasaan bisa menjadi editor; yang bekerja di percetakan membantu mencetak buku; hingga anggota yang bekerja mempunyai bakat marketing bisa dijadikan untuk tim penjual buku; begitu pula yang kebetulan punya toko buku/agen koran. Penjualan dan penyebaran buku bisa juga dilakukan melalui penitipan kepada para anggota dengan sistem konsinyasi atau reseller. Jadi, pemasukan ke komunitas adam begitu juga bagi anggotanya dapat menambah-nambah penghasilan.  

Konsep Dasar Pemberdayaan Sanggar Belajar/Pelatihan Berbasis Komunitas

Beberapa konsep dasar yang bisa diberlakukan adalah:

1. Untuk mengarahkan komunitas menjadi sanggar belajar atau pelatihan disesuaikan dengan melihat potensi dan kebutuhan yang ada. Dalam hal ini, bisa saja satu garapan dulu atau bisa juga beberapa potensi yang ada dikembangkan dengan mempertimbangkan sisi pemberdayaan mana yang potensial digarap. Di sini model pendataan dan manajemen pemberdayaan sangat diperhatikan, agar nantinya kebutuhan dapat efektif dan efisien dan juga agar terjadi kontinyuitas pemberdayaan. Selain itu, aspek infrastruktur dan pendaanan juga menjadi masukan penting agar pola sekretariat dan pembukuan keuangan jelas dan dipahami semua pengelola dan anggota komunitas.

2. Bidikan sisi mana yang hendak diambil untuk diberdayakan dalam konsep sanggar belajar/pelatihan di komunitas tentunya sesuai dengan rembugan pengisi komunitas tersebut. Dan yang terpenting tidak melenceng dari visi-misi komunitas. Jadi, hobi bisa jalan juga ilmu/keterampilan dan pendapatan bisa dihasilkan. Dalam hal ini, jaringan komunikasi dan pengarahan pada masing-masing anggota mutlak diperlukan agar tidak mispersepsi dan juga bisa melindungi jaringan komunitas itu sendiri.

3. Selain kesepahaman, tentunya harus dipilah-pilah program apa yang cocok dilaksanakan. Dalam hal ini, penentuan posisi masing-masing. Dalam keadaan ini, komunitas bisa "beralih" dulu menjadi organisasi agar jelas petunjuk pelaksanaan juga hak-kewajiban juga kewenangan para pengurus dan anggota. Pada akhirnya, sistem profesionalisme bisa diberlakukan dengan adanya penempatan yang sesuai dengan kapasitas dan kapabilitas masing-masing.

4. Agar tidak menjadi "liar" mutlak diperlukan adanya AD/ART, visi, misi, serta aturan lain yang bisa menjadikan keadaan menjadi terarah dan paham akan resiko yang ditimbulkan pada komunitas. Untuk menyiasati hal ini tidak ada salahnya jika mendirikan lembaga payung hukum untuk "bergerak" lebih jauh, misalnya mendirikan sebuah CV atau koperasi yang dikelola bersama. Ini penting agar jika ada kerjasama yang menuntut profesionalisme bisa berada dalam rel hukum/tata aturan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

5. Dua sisi dari komunitas yang bisa berada dalam ranah profesionalisme, bisa juga dalam waktu bersamaan diarahkan untuk kegiatan yang bersifat sosial. Dalam hal ini, disesuaikan dengan potensi yang ada. Misalnya, jika ada untung dalam sebuah kegiatan/pekerjaan yang digarap bersama bisa dikumpulkan dengan sumbangan dari luar untuk menyokong kegiatan bakti sosial. 

6. Potensi lain yang bisa diberdayakan adalah adanya pola kemitraan dan kerjasama dengan pihak lain. Misalnya, komunitas pembuat barang kerajinan bisa saja menjadi mitra binaan lembaga pemerintah yang bergerak di bidang kerajinan atau juga dengan pihak pemodal seperti bank. Ini sangat mungkin dilakukan, karena basis komunitas telah bisa melahirkan aspek penting produksi hingga distribusi yang dikelola bersama dan menghasilkan serta sesuai dengan persyaratan untuk dijadikan mitra binaan.

Adapun bentuk pengembangan lain (sesuai kebutuhan) yang berhubungan dengan pemberdayaan komunitas ini adalah:
1. Membangun, mengembangkan, dan memajukan mutu kualitas dan kuantitas organisasi/komunitas  menjadi semakin lebih bagus dan lebih baik, dengan menjalin kerjasama dengan lembaga/komunitas lain secara berkala.
2. Mendirikan taman bacaan, business centre, media konsultasi, dan infrastruktur lain yang manfaat untuk pengurus, anggota dan masyarakat.
3. Mengikutsertakan atau melaksanakan pelatihan, pembinaan Komputerisasi, administrasi, wirausaha, dan lain sebagainya kepada pengurus, anggota, stakeholder, dan masyarakat sekitarnya.
4. Mencari donatur yang peduli (simpatisan) terhadap kegiatan komunitas.
5. Mewujudkan usaha/sanggar di tempat lain (cabang) untuk kesekretariatan/kantor yang refresentatif dan nyaman untuk aktivitas kinerja dan pelatihan.

Masih banyak sebetulnya celah potensi yang bisa dikembangkan, namun ini baru gambaran saja. Sejatinya, potensi komunitas bukan sekadar tempat ngalor-ngidul atau pertemuan yang kurang menghasilkan nilai guna bagi bangkitnya pemberdayaan di dalam komunitas sendiri. Aspek pembelajaran, pelatihan, dan kewirausahaan dapat dilakukan dengan menyesuaikan kebutuhan yang ada. Bukan hal tidak mungkin ini bisa jadi awal bangkitnya ekonomi masyarakat dengan ciri silih asah, silih asih, dan silih asuh. Sayangnya, kita baru melihat komunitas hanya dari permukaan. Bukan potensi-potensi yang ada dalam diri penghuninya (sumber daya manusia) yang jika diarahkan dan difasilitasi bisa menjadikan tulang punggung kegiatan masyarakat yang mandiri dan bernilai guna. Padahal ini, dari zaman dulu sudah menjadi ciri bangsa kita. Misalnya, saat menggarap sawah atau berkebun, pola paguyuban sangat mempengaruhi budaya agraris kita. Tetangga, kerabat, dan handai taulan lainnya saling bahu membahu untuk menggarap sawah/kebun; dari musim taman hingga musim panen. Hal itu jadi garapan bersama yang berlangsung hingga turun temurun dan tentunya yang terlibat dapat mengambil hasil bersama sesuai kapasitas dan kapabilitas masing-masing.

Baca artikel terkait:

Bagikan artikel ini :
Posted by : Hidayat Jayagiri
Hidayat Jayagiri Updated at: 7:31 PM

Tips Wirausaha

More on this category »

Pendidikan Keluarga

More on this category »

Translate

 
Support : About | Privacy Policy | Kontak | Site Map
Copyright © 2012. www.hidayatjayagiri.net - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template