Nomor SMS dan Situs Pengaduan Partisipasi Publik Terkait Kurikulum 2013

Kurikulum adalah milik bersama. Untuk itu, pemerintah berkewajiban untuk melibatkan publik secara lebih luas. Dalam memfasilitasi suara publik dalam mengawal dan mengevaluasi K-14, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan ruang partisipasi publik terkait Kurikulum 2013 (K13) melalui SMS khusus 1771, dan situs pengaduan www.kemdikbud.go.id bagi seluruh masyarakat Indonesia. Terkait penyediaan ruang publik dalam ranah virtual ini, tiada lain agar Kurikulum 2013 dapat dikembangkan dengan proses yang baik.

Sumber: http://kemdikbud.go.id/


Melalui layanan ini, masyarakat dapat mengirim masukan, atau pengaduan dengan mengirimkan pesan singkat ke nomor 1771 dengan mengetik KUR (spasi) peran#masukan, atau dengan mengisi formulir media jaringan pada situs pengaduan.kemdikbud.go.id yang tersedia.

Salah satu ciri proses pengambilan kebijakan yang baik adalah dengan pelibatan yang luas seluruh pemangku kepentingan pendidikan, termasuk para pihak di luar struktur pengambil kebijakan serta lembaga pendidikan. Peran  masukan masyarakat dalam pesan singkat itu merupakan bentuk keterlibatan dalam pendidikan. Dalam hal ini, mereka yang berperan di antaranya orang tua, siswa, guru, kepala sekolah, dinas, atau masyarakat luas. 

Pada media jaringan, masyarakat dapat mengisi formulir media jaringan pada situs pengaduan: kemdikbud.go.id. Melalui media ini, masyarakat dapat mengungkapkan masukan secara lebih terperinci. Tidak hanya itu, formulir ini pun memungkinkan isi masukan yang dikirimkan lebih panjang dari layanan pesan singkat.

Layanan SMS sementara ditangani oleh jaringan Telkomsel dan Indosat. Kemdikbud sedang mengusahakan operator lain agar juga terlibat. Adapun untuk mendapatkan informasi lebih lanjut, masyarakat dapat menghubungi nomor telepon 021-5725980 dan nomor faks. 021-5725645.

Tata Cara Penyusunan KTSP PAUD 2013

 Paradigma Pendidikan karakter pada PAUD
1. Pendidikan karakter adalah upaya penanaman nilai dan sikap, bukan pengajaran, sehingga memerlukan pola pembelajaran fungsional.
2.   Pendidikan karakter menuntut pelaksanaan oleh 3 (tiga) pihak secara sinergis, yaitu: orang tua, satuan/lembaga pendidikan, dan masyarakat.
3.  Materi dan pola pembelajaran disesuaikan dengan pertumbuhan psikologis peserta didik.
4.   Materi pendidikan karakter berbasis kearifan lokal.
5. Materi pendidikan karakter diintegrasikan ke dalam materi pembelajaran lain

18 Nilai Pendidikan Karakter PAUD1. Religius
2. Jujur
3. Toleransi
4. Disiplin
5. Kerja keras
6. Kreatif
7. Mandiri
8. Demokratis
9. Rasa ingin tahu
10. Semangat kebangsaan
11. Cinta tanah air
12. Menghargai prestasi
13. Bersahabat/komunikatif
14. Cinta damai
15. Gemar membaca
16. Peduli lingkungan
17. Peduli sosial
18. Tanggung jawab
Untuk menyusun kurikulum RA 2013 ini komponen-komponennya adalah :
- KTSP
- Kalender Pendidikan
- Program Tahunan
- Program Semester
- Rencana Kerja Mingguan
- Rencana Kerja Harian
- Komponen-komponen penilaian

Komponen-komponen yang termuat dalam KTSP mencakup dua dokumen, yaitu :

DOKUMEN I ( KTSP PAUD 2013 )
Dokumen I dalam KTSP terdiri dari empat BAB yaitu Pendahuluan, Tujuan Pendidikan, Struktur dan Muatan Kurikulum, dan Kalender Pendidikan.

BAB I PENDAHULUAN
Pendahuluan berisi penjabaran :

1. Latar Belakang (Dasar Pemikiran Penyusunan KTSP)
Latar belakang merupakan penjabaran alasan pengembangan kurikulum. Di sini dibahas dua hal sebagai pertimbangan mengapa sebuah pengembangan kurikulum perlu ada, yaitu kenyataan yang ada di lapangan dan harapan pengembang kurikulum.
   
Kenyataan berisi mengenai berbagai fakta yang menjelaskan keadaan lapangan yang menuntut segera dikembangkannya sebuah kurikulum yang sudah ada.

Harapan pengembang kurikulum, berisi berbagai hal yang diharapakan jika kurikulum tersebut dikembangkan dari kurikulum yang sudah ada. Harapan yang disusun memperhatikan kemampuan lembaga, dari segi SDM maupun SDA.

2. Analisis SWOT Kondisi Lembaga
Analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats) perlu dilakukan untuk mengetahui berbagai faktor, baik pendukung maupun
penghambat jika sebuah kurikulum akan dikembangkan di wilayah sekitar lembaga.

a) Strengths (Kekuatan)
Kekuatan merupakan unsur-unsur yang dapat dijadikan pendukung bagi pengembangan kurikulum ini. Kekuatan dapat berupa material muapun nonmaterial.

b) Weaknesses (Kelemahan)
Kelemahan merupakan faktor penghambat bagi pelaksanaan pengembangan kurikulum. Faktor ini sama dengan faktor kekuatan, dapat bersifat material dan imaterial.

c) Opportunities (Peluang)
Peluang merupakan kesempatan, celah, atau alternatif, yang berarti bahwa unsur ini merupakan berbagai peluang dan alternatif bagi pelaksanaan pengembangan kurikulum.

d) Threats (Ancaman)
Ancaman merupakan unsur yang dapat menggagalkan proses dan pelaksanaan pengembangan kurikulum.


BAB II TUJUAN PENDIDIKAN
Tujuan Pendidikan berisi penjabaran :
1. Filosofi

Lembaga menentukan filosofi yang akan dijadikan acuan bagi pengembangan kurikulum agar tidak melenceng dari falsafah bangsa dan kebutuhan sekolah. Filosofi pengembangan kurikulum memperhatikan pada budaya bangsa,perkembangan anak, keadaan wilayah, kemajuan jaman, dan kebutuhan masyarakat akan pendidikan.

2. Visi Sekolah
Visi merupakan cita-cita utama sekolah yang dijabarkan dalam kalimat. Visi ini tidak lebih dari satu kalimat. Beberapa lembaga menjadikan visi ini sekaligus sebagai motto sekolah agar mudah diingat masyarakat.

3. Misi Sekolah
Misi merupakan penjabaran agar visi tercapai, atau lebih singkatnya adalah cara mencapai visi. Hal ini memungkinkan bahwa misi dapat lebih dari satu kalimat uraian.

4. Tujuan Sekolah
Tujuan sekolah terlahir dari misi yang ada dan merupakan harapan terhadap lulusan yang dihasilkan. Cara yang dijabarkan dalam misi dapat diuraikan menjadi tujuan.

5. Prinsip Pembelajaran  
Prinsip pembelajaran perlu disusun agar pelaksanaan kurikulum yang telah dikembangkan tetap pada jalurnya. Prinsip dapat disusun dengan mengadopsi dari perkembangan anak, budaya dan adat istiadat daerah, ataupun tuntutan perkembangan jaman.

6. Tata Tertib  
Jika prinsip pembelajaran telah disusun, maka perlu ada tata tertib pelaksanaan pembelajaran yang juga dimuat dalam pengembangan kurikulum agar pelaksanaannya tidak melanggar karakteristik anak, budaya, dan filosofi sekolah. Tata tertib diberlakukan pada sekolah, guru, dan orang tua sebagai pengguna.


BAB III  STRUKTUR DAN MUATAN KURIKULUM
Hal ini merupakan inti isi kurikulum, di dalamnya memuat menu pembelajaran yang akan dijadikan acuan pembelajaran sepanjang tahun. Struktur meliputi kurikulum inti dan kurikulum institusional atau muatan lokal dan berisi alokasi waktu pada masing-masing aspek.

Isi kurikulum disusun dengan memperhatikan komponen anak, pendidik, pembelajaran, asesmen, dan pengelolaan pembelajarannya itu sendiri.

- Anak memperhatikan sasaran layanan usia di sekolah
- Pendidik memperhatikan kompetensi lulusan dan kualifikasi pendidikan
- Pembelajaran memperhatikan pengelompokkan usia
- Asesmen dengan menyusun acuan pemantauan perkembangan anak dalam pembelajaran
- Pengelolaan pembelajaran berisi satuan kegiatan dari tahunan hingga ke harian.

1. Bidang Pengembangan
Bidang pengembangan atau aspek perkembangan merupakan perkembangan yang akan dilatihkan selama proses pembelajaran sesuai dengan usia dan karakteristik anak.

Jika pengembangan kurkikulum mengacu pada kurikulum PAUD formal, maka akan ada lima bidang pengembangan. Namun jika mengacu pada kurikulum PAUD nonformal akan terdapat enam aspek perkembangaan.

2. Muatan Lokal
Muatan lokal merupakan isi kurikulum yang akan menjadi ciri khas sebuah sekolah sesuai dengan kegiatan khas dari masyakarat sekitar.

3. Kegiatan Pengembangan Diri
Kegiatan pengembangan diri berupa kegiatan ekstrakurikuler yang merupakan upaya pembentukan watak dan kepribadian anak melalui kegiatan penyaluran minat, bakat, hobi, kepribadian, dan kreativitas.

4. Pengaturan Beban Mengajar
Pembagian alokasi waktu agar indikator dapat dikembangkan dengan merata.


BAB IV  KALENDER PENDIDIKAN
Kalender berisi tentang pengaturan waktu pembelajaran selama setahun yang disesuaikan pada kebutuhan daerah, peserta didik dan pemerintah daerah maupun pusat.

Dalam kalender dijabarkan juga sistem pembelajaran yang dianut, menggunakan triwulan, catur wulan, atau semester. Memuat juga waktu pelaksanaan pembelajaran sehari-hari, dimulai jam berapa dan kapan berakhirnya.

DOKUMEN II ( KTSP PAUD 2013 )Dokumen II KTSP berisi pengembangan silabus yang merupakan perencanaan tahunan, semester/bulanan, mingguan, dan harian. Dokumen II berisi inti pembelajaran yang akan dilaksanakan selama satu tahun ke depan.

Untuk contoh penyusunan KTSP PAUD 2013 UNDUH DI SINI

Guru sebagai Agen Perubahan dalam Pelaksanaan Kurikulum 2013

Pada 2011, World Bank mengeluarkan hasil riset bahwa guru Indonesia terendah di Asia. Hal ini tentunya menjadi hal yang miris. Bagaimanapun berubahnya kurikulum dengan jargon "ganti menteri, ganti kurikulum" sudah menjadi kebiasaan di Indonesia. Kurikulum sebagai "juklak" penyelenggaraan pendidikan dianggap sebagian kalangan hanya berputar dalam ranah masalah yang sama. Toh, pada akhirnya pelaksanaan di lapangan seakan berkutat dalam permasalahn sumber daya manusia (guru). Guru yang menjadi agen perubahan siswa di sekolah dituntut untuk mampu menghadirkan sistem belajar yang mudah dan menyenangkan. Konsep hafalan untuk siswa dan "kejar setoran" RPP dan Silabus guru di kelas seakan menjadi pola rutinitas yang kadang kurang mencerminkan arah perbaikan sistem belajar di negara ini.

Sekarang, seiring kemunculan babon baru sistem belajar-mengajar di kelas, Kurikulum 2013 menuntut agar guru mulai melek keadaan. Bahwa selama ini metode pembelajaran harus bisa disesuaikan oleh guru demi keterpaduan dengan zaman. Ciri adaptif terhadap zaman yang banyak menuntut adanya generasi muda yang mampu mengelola dirinya sendiri, menjadi hal yang mesti dilakoni oleh guru. Konsekuensinya, paradigma baru akan cara belajar yang tidak hanya berkutat pada sistem satu arah perlu dikembangkan. Guru bisa menjadi mediator bagi siswa untuk belajar menggali potensi dirinya. Jika selama ini siswa hanya belajar dengan metode menghafal dan mengejar nilai semata, rupanya harus mulai ditinggalkan. Siswa "berhak" mendapatkan apa yang semestinya menjadi jatidiri dirinya untuk berkembang. Maka, sistem "pengkastaan" ilmu di sekolah dalam Kurikulum 2013 ini mulai terlihat arahnya. Salah satu indikatornya dengan adanya metode tematik integratif dalam pelajaran SD.  

Kembali ke masalah peningkatan metode pembelajar guru. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh menuturkan untuk menghadapi penerapan Kurikulum 2013 ini, guru harus mengikuti pelatihan cara mengajar yang mesti dilakoni selama 52 jam. Waktu pelatihan 52 jam ini hanya pelatihan awal saja, ke depannya ada model pendampingan dalam pelaksanaan guru mengajar. Pelatihan tahap awal ini lebih dititikberatkan agar guru dan konsep praktik Kurikulum 2013 segera matching. Guru berada dalam kawah candradimuka pelatihan metode pembelajaran Kurikulum 2013 dengan mengedepankan aspek pembelajaran sesuai tujuan kurikulum ini. Guru  diharapkan bisa menjadikan pembelajaran di kelas bukan hal yang membosankan bagi siswa; penyampaian pelajaran yang bukan satu arah; adanya aktivitas siswa untuk bisa mengembangkan potensi dirinya; kepahamaan akan ilmu yang dikuasai siswa yang berguna untuk hidup dia kelak; penggunaan sarana dan prasarana dalam melaksanakan pembelajaran; memahami bahwa guru adalah agen perubahan yang membentuk siswa lebih menjadi sosok yang bisa mengembangkan diri tanpa dicekoki oleh sistem hafalan dan target nilai.

Adapun pelatihan pengajar untuk Kurikulum 2013 ini terdiri dari tiga jenjang, instruktur nasional, guru inti, dan guru massal. Untuk pelatihan guru massal rencana dilaksanakan selama liburan panjang akhir tahun pelajaran (Mei hingga Juni). Hal ini karena pada akhir tahun pelajaran, sekolah/kelas yang kosong bisa diberdayakan untuk pelatihan karena masa liburan sekolah. Selanjutnya, metode pelatihan 52 jam terbagi dalam 33 jam pertemuan tatap muka dan 19 jam pertemuan mandiri terbimbing untuk guru di semua jenjang pendidikan SD, SMP, dan SMA/SMK. Paket 52 jam pelatihan lebih ditekankan pada penguasaan konsep dan prinsip kurikulum 2013 dan tentunya penerjemahan bagaimana aplikasinya di lapangan.

Jika menilik pada sejarah pemberlakuan kurikulum sebelumnya, memang secara teoretis "primbon" kurikulum ini semuanya bertujuan baik. Namun, permasalahan yang kerap terjadi dimana harapan kurikulum dan kenyataan di lapangan biasanya kembali kurang padu. Guru memang ujung tombak agen perubahan, namun guru tidak serta merta dapat adaptif terhadap tuntunan perubahan ini. Bagaimanapun harus ada keseriusan dan kesinambungan bahwa guru jangan dijadikan sosok "penanggung jawab" sentral akan keberhasilan Kurikulum 2013. Hal ini karena penerapan sistem pendidikan nasional adalah mata rantai dimana dibutuhkan "kerja sama tim" yang padu dari hulu ke hilir, dari pusat hingga pelosok. Jangan sampai pendidikan akan kembali seperti labirin, dimana: apapun kurikulumnya, masalahnya itu-itu juga. 

Sudah waktunya bangsa Indonesia menjadi bangsa yang fokus menggarap pendidikan sebagai sumber peradaban penting bagi terbentuknya insan-insan yang tidak gagap dalam menghadapi tuntutan zaman yang serba cepat ke arah perubahan ini. Konsekuensi logis memang, bahwa sistem pendidikan yang baik adalah mampu menghadirkan sosok-sosok anak bangsa yang tidak kebingungan atau hanya sebagai "korban zaman" yang kikuk dalam menemukan: apa hubungan ilmu di sekolah dengan aplikasi tantangan hidup di lapangan? Ini memang perlu waktu, tapi jika tidak dimulai dari sekarang, kapan lagi? Semua pihak hendaknya menyadari bahwa pendidikan adalah kekuatan superdahsyat yang akan membentuk citra diri dan karakter suatu bangsa.

Akhirnya, bagaimana nanti indikator keberhasilan Kurikulum 2013? Cermin sejati ada di ranah lapangan. Keadaan di lapangan sangat objektif untuk mengukur sejauh mana efektivitas penerapan kurikulum baru pada sistem pendidikan yang berjalan. Bagaimana ilmu pengetahuan siswa, moral, kreativitas, dll. bisa terlihat dengan jelas dalam aplikasinya di lapangan. Jadi, mari kita tunggu saja setelah gongnya ditabuh. Adapun masalah pro-kontra atau polemik munculnya Kurikulum 2013 adalah hal yang wajar; dengan keyakinan bahwa semua dimaksudkan untuk ke arah yang lebih baik.

Attitude, Skill, dan Knowledge dalam Kurikulum 2013

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) masih menyiapkan perombakan kurikulum yang akan dilakukan untuk tahun ajaran 2013/2014. Seperti diketahui, jumlah mata pelajaran masing-masing jenjang sekolah akan diajukan sesuai dengan yang telah diberitakan sebelumnya. Untuk tingkatan sekolah dasar (SD), hanya akan ada enam mata pelajaran wajib, yaitu PPKn, Agama, Matematika, Bahasa Indonesia, Seni Budaya, dan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes).

Khusus untuk jenjang SD, Kurikulum 2013 dititikberatkan pada pembentukan sikap. Hal ini diharapkan mampu memunculkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga mempunyai sikap yang baik dan bijak ke depannya. Untuk itu, Kurikulum 2013 memiliki sasaran dalam setiap jenjang. Sasarannya yaitu untuk tingkat SD, diprioritaskan untuk pembentukan sikap. Tingkat SMP difokuskan untuk mengasah keterampilan. Sementara untuk tingkat SMA dimulai membangun pengetahuan. Maka, Kurikulum 2013 difokuskan pada attitude, skill, dan knowledge. Keseimbangan kemampuan siswa/peserta didik diarahkan pada penguasaan ilmu pengetahuan (hard skill) yang bersipadu dengan kemampuan bersosialisasi (soft skill).

Nantinya dalam kurikulum baru untuk pengajaran ilmu pengetahuan tidak hanya disampaikan secara teori. Namun, akan ada eksperimen-eksperimen kecil sehingga anak-anak dapat lekas memahami. Alasan dasarnya, selama ini siswa/peserta didik hanya duduk di kelas dan menghafal saja. Apa yang dia dapatkan kemudian bisa menguap begitu saja karena kurangnya integrasi dan pemahaman akan pengaruhnya pada diri.  Salah satu contoh penerapannya mengenao mengapa air dan minyak tidak dapat bersatu? Dengan eksperimen kecil, anak-anak akan secara langsung mengetahui apa permasalahannya dan bagaimana dua senyawa yang tolak menolak tersebut dapat bersatu dengan bantuan senyawa lain.

Jadi, selama ini pembelajaran yang didominasi teori menjadi pemicu utama mengapa peserta didik seakan disorientasi akan apa yang hendak dilakukannya kelak. Ilmu yang didapat di sekolah hanya menjadi jembatan untuk bisa lulus dengan nilai baik, bukan pada aspek pembentukan sikap akan makna belajar yang berguna sepanjang hayat. Untuk itu, Mendikbud mengarahkan sistem bahan ajar lewat video atau film sehingga anak-anak mendapat ilustrasi yang sesuai. Ini juga membuktikan bahwa ilmu pengetahuan itu menyenangkan dan bisa dipelajari dengan media teknologi yang ada di sekitar.

Jika menilik pada penjelasan di atas, Kurikulum 2013 mempunyai "misi" untuk lebih membuka mata pada kondisi zaman. Zaman yang serba cepat ini tidak hanya bisa diimbangi dengan kecerdasan otak semata namun dengan adanya karakter diri pada penghuni jagat pendidikan yang berbasis nasionalisme. Kecenderungan degradasi generasi bangsa rupanya sudah tertangkap dan ini bisa mengubah karakter peradaban bangsa. Oleh karena itu, sistem pendidikan mengarahkan generasi penerus untuk bisa memaksimalkan potensi diri di era globalisasi ini tanpa akar bangsanya tercerabut. Sebuah harapan yang tentunya ada dalam benak pengisi bangsa ini. Semoga perubahan kurikulum bukan sebatas teori belaka. Berkaca pada tujuan mulia pendidikan sendiri, bahwa sehebat apapun teori, jika aplikasi di lapangan tidak digarap secara teratur, terencana, dan sungguh-sungguh hanya menghasilkan kondisi labirin; dimana permasalahannya kembali ke situ-situ saja. Sudah waktunya bangsa ini memerluka attitude, skill, dan knowledge yang bukan hanya di atas kertas. Semua yang dilakukan harus bisa memberikan indikator yang positif, tentunya dengan adanya penerapan kompetensi aktif dan serius dari semua elemen (pendidikan) bangsa. 

Kurikulum 2013: Sistem Pembelajaran Tematik Integratif

Dalam rencana penerapan Kurikulum 2013 disajikan model pembelajaran tematik integratif. Ini mungkin yang berbeda dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya. Dengan pola tematik integratif ini, buku-buku siswa SD tidak lagi dibuat berdasarkan mata pelajaran. Namun, berdasarkan tema yang merupakan gabungan dari beberapa mata pelajaran yang relevan dengan kompetensi di SD. Kita ambil contoh, dalam pelajaran kelas I SD ada 8 tematik, yakni diriku; kegemaranku; kegiatanku; keluargaku; pengalamanku; lingkungan bersih, sehat, dan asri; benda, binatang, dan tanaman di sekitarku; serta peristiwa alam. Ditambah lagi dengan pendidikan agama dan budi pekerti.

Lantas apa inti dari penerapan sistem pembelajaran Kurikulum 2013 ini? Ini sebagai upaya penyederhanaan, dalam wujud tematik-integratif. Tujuannya, untuk mencetak generasi yang siap di dalam menghadapi masa depan. Siswa diharapkan mampu mengembangkan nalar dibanding hafalan. Sudah menjadi "penyakit" sistem pendidikan kita yang lebih menonjolkan aspek keberhafalan daripada sistem mengerti. Siswa seakan diperas otaknya untuk menghafal aneka ragam mata pelajaran. Malah, kadang siswa sendiri kebingungan ketika diberi pertanyaan: "Untuk apa kamu belajar materi ini?". Inilah yang menjadi latar belakang adanya perubahan kurikulum ini. Siswa diharapkan menjadi manusia mandiri yang tidak hanya dijejali "fatwa" guru di kelas. Dalam Kurikulum 2013 ini, siswa diarahkan untuk mampu mengeksplor dirinya sendiri menuju arah perkembangan.

Dalam pembelajaran tematik-integratif ini, siswa tidak lagi belajar IPA, Bahasa Indonesia, Matematika, atau mata pelajaran lainnya. Akan tetapi,  siswa belajar tema yang didalam tema itu sudah mencakup seluruh mata pelajaran dan kompetensinya. Dengan kata lain, tidak ada pemisahan antar mata pelajaran. Eksplorasi pada pelajaran sistem tematik ini bertujuan agar peserta didik/siswa mampu lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengkomunikasikan (mempresentasikan), apa yang mereka peroleh atau mereka ketahui setelah menerima materi pembelajaran. Lantas untuk menjembatani hal tersebut, obyek yang menjadi pembelajaran dalam penataan dan penyempurnaan Kurikulum 2013 menekankan pada fenomena alam, sosial, seni, dan budaya.

Siswa diarahkan untuk memiliki kompetensi sikap, ketrampilan, dan pengetahuan jauh lebih baik. Tujuan lainnya, agar siswa/peserta didik tidak menjadi sosok yang asal menerima atau belajar untuk hafal. Ia diaharapkan lebih kreatif, inovatif, dan lebih produktif. Konsep menjadi diri sendiri dengan mengembangkan aspek kognitif, apektif, dan psikomotorik pada diri mereka dapat lebih digali. Diharapkan nantinya siswa/peserta didi mampu menghadapi berbagai persoalan dan tantangan di zamannya. Tentunya hal ini dengan acuan mampu berkancah pada tantangan global yang berakar pada lokaliras. Dalam sistem tematik integratif ini, indikator mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan Sosial akan muncul di kelas IV, V, dan VI SD. Untuk mata pelajaran IPA dan IPS di SD tidak diajarkan secara terpisah, tetapi indikatornya dibuat muncul atau diperjelas sejak kelas IV SD. 

Hal  lain yang menjadi catatan adalah Kurikulum 2013 tersebut bisa disebut  kurikulum minimal. Di lapangan, guru serta sekolah mempunyai keleluasaan untuk mengembangkan atau memperkaya materi. Dengan kata lain, Kurikulum 2013 menuntut guru untuk lebih bisa mengembangkan cara pembelajaran yang asyik dan menyenangkan. Proses ini mungkin tidak akan serta merta berubah dalam diri guru yang selama ini biasa "mencekoki" siswa dengan penjelasan-penjelasan gaya satu arah. Oleh karena itu, guru harus bisa memposisikan diri sebagai pembimbing siswa bukan sang otoriter kelas. Masalah bakat dan minat, hanya siswa sendiri yang bisa mengenali dirinya sendiri. Inilah konsep Kurikulum 2013 yang lebih "memanusiakan manusia". Bukan menjadikan siswa "robot pendidikan" yang cepat lelah dan pusing karena harus mengerjakan tugas sekolah bejibun, belum lagi aneka buku yang harus dia bawa di tas karena banyaknya pelajaran yang harus dia pelajari.

Guru diharapkan mampu menggali dan memancing potensi siswa, apapun minat dan bakatnya. Siswa sendiri menjadi obyek yang diberi keleluasaan untuk mengembangkan potensi dirinya. Dengan demikian, tidak ada lagi dikotomi  (tepatnya kasta) mata pelajaran yang menyebabkan munculnya label seorang anak disebut "pintar" atau "kurang pintar" dengan berpatokan pada mata pelajaran tertentu yang dianggap memiliki nilai tersendiri. Mau pelajaran sains, sosial, atau bahasa semua sama "haknya" yang bebas dipilih oleh siswa. Tentunya hal ini menimbulkan ekses lain, salah satunya dengan persiapan sumber daya manusia (baca: guru) dan infrastruktur yang mendukung bagi perkembangan siswa dan sekolah. Kita tunggu dan amati saja bagaimana nanti jalannya penerapan Kurikulum 2013 ini di lapangan.

Kurikulum 2013 Berlaku Penuh 2014

Rencana penerapan Kurikulum 2013 sampai sekarang masih dalam masa persiapan. Ketika tulisan ini dibuat (Februari 2013), buku pendukung pelajaran untuk tingkat SD masih terus "dikebut" ditulis oleh para penulis yang diseleksi oleh Pusat Perbukuan dan Kurikulum (Puskurbuk). Lantas, kapan penerapan Kurikul 2013 ini sendiri dilaksanakan? Menurut berita dari media massa, Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Musliar Kasim menyebutkan Kurikulum 2013 ini ditargetkan mencakupi 30% wilayah pada tahun 2013. Adapun pemberlakuan secara penuh akan dilaksanakan pada tahun ajaran 2014.

Khusus untuk sekolah dasar (SD)minimal 30 persen dari SD yang ada di setiap kabupaten. Lalu dilanjutkan dengan tahap berikutnya secara menyeluruh  hingga mencapai angka 100%. Tentunya, untuk menerapkan Kurikulum 2013 tersebut ditunjang pula dengan sosialisai kurikulum kepada guru-guru di berbagai wilayah. Adapun penerapan 30 persen itu sifatnya minimal. Penerapan minimal itu dilakukan karena sumber daya manusia Kemendikbud yang terbatas, tapi 2014 sudah harus berlaku total dan di seluruh Indonesia. Kriteria 30 persen SD yang akan memberlakukan kurikulum 2013 itu, tetap berkeadilan dengan merepresentasikan sekolah negeri dan swasta. Selain itu juga ditargetkan untuk merepresentasikan sekolah berakreditasi A, B, dan C.

Jika digambarkan, di Indonesia ada sebanyak 148 ribu sekolah dasar (SD). Kalau 30% saja sudah ada 48 - 49 ribu guru SD yang harus dilatih untuk melaksanakan kurikulum 2013.  Adapun sosialisasi kurikulum 2013 yang dilakukan Kemdikbud tersebut terus gencar dilaksanakan di berbagai wilayah agar guru-guru nantinya siap. Kurikulum 2013 merupakan penyederhanaan kurikulum sebelumnya yang akan mendidik kreativitas peserta didik, termasuk memudahkan para guru dalam mengajar.

Ciri Kurikulum 2013 ini sesuai dengan kondisi suatu daerah, sehingga peserta didik akan bisa memunculkan kemampuan yang dia miliki. Dengan hadirnya Kurikulum 2013 ini diharapkan anak didik bukan sekadar "robot-robot" yang dijejali dengan segala penjelasan dari guru. Dalam kurikulum ini, guru bertindak sebagai fasilitator. Dengan harapan, siswa mampu mengembangkan dirinya sendiri tanpa terbelenggu oleh budaya belajar selama ini yang berorientasi nilai, bukan kemampuan/keterampilan yang menjadi bekal dia kelak. Diharapkan, kurikulum ini juga mampu menjadikan siswa/peserta didik yang "mengerti", buka "menghafal". Kita tunggu saja bagaimana perjalanan penerapan Kurikulum 2013 ini di lapangan nanti.

Kurikulum 2013: Latar Belakang, Perubahan Konsep Belajar, dan Jam Pelajaran

Latar belakang perlunya perubahan kurikulum menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhammad Nuh bahwa ditengah perubahan zaman, sistem pendidikan di Indonesia juga harus selalu ikut menyesuaikan. Pengembangan kurikulum 2013 diharapkan dapat menjadi jawaban untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia hadapi perubahan dunia. Pengembangan kurikulum 2013 sudah melalui proses panjang dan ditelaah sehingga saatnya disampaikan ke publik agar dapat bisa memberi pandangan lebih sempurna. Dengan segala konsekuensinya, perubahan kurikulum yang akan dimulai 2013 harus dilakukan jika tidak ingin kualitas SDM Indonesia tertinggal.

Pemerintah akan mengubah kurikulum Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, serta Sekolah Menengah Kejuruan dengan menekankan aspek kognitif, afektif, psikomotorik melalui penilaian berbasis tes dan portofolio saling melengkapi. Basis perubahan kurikulum 2013 terdiri dari dua komponen besar, yakni pendidikan dan kebudayaan. Kedua elemen tersebut harus menjadi landasan agar generasi muda dapat menjadi bangsa yang cerdas tetapi berpengetahuan dan berbudaya serta  mampu berkolaborasi maupun berkompetisi. 

Adapun orientasi pengembangan kurikulum 2013 adalah tercapainya kompetensi yang berimbang antara sikap, keterampilan, dan pengetahuan, disamping cara pembelajarannya yang holistik dan menyenangkan. Perubahan yang paling berdasar adalah nantinya pendidikan akan berbasis science dan tidak berbasis hafalan lagi.

Rencananya pada Kurikulum 2013 ini, pengurangan mata pelajaran sekolah akan terjadi di tingkat SD dan SMP. SMP yang semula mempunyai 12 mata pelajaran, pada tahun 2013 hanya akan mempunyai 10 mata pelajaran. 10 mata pelajaran tersebut yakni Pendidikan Agama, Pancasila dan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, Bahasa Inggris, Seni Budaya dan Muatan Lokal, Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, dan Prakarya. Adapun dari sisi jam pelajaran, kurikulum baru ini akan menambah panjangnya jam pelajaran. Untuk SD kelas 1 dari 26 jam per minggu menjadi 30 jam. Untuk kelas 2 SD dari 27 jam menjadi 32 jam. Sedangkan untuk kelas 3 SD dari 28 jam menjadi 34 jam, sementara kelas 4, 5, 6 SD dari 32 menjadi 36 jam per minggu.

Untuk SD, terjadi perubahan dari 10 mata pelajaran menjadi hanya enam. Keenam mata pelajaran itu adalah Matematika, Bahasa Indonesia, Agama, Pendidikan Jasmani, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, dan Kesenian. Sedangkan IPA dan IPS menjadi tematik di pelajaran-pelajaran lain.

Ditingkat SMP, pemberian pelajaran akan mempergunakan Tekonologi Informasi Komunikasi (TIK) didalam kelas. Kebijakan ini memungkinkan pemakaian laptop didalam kelas oleh siswa. Dengan harapan, wawasan siswa dapat semakin terbuka. Sementara ditingkat SMA, siswa mendapatkan matapelajaran wajib dan mata pelajaran pilihan. Dari sistem pendidikan ini, per jurusan dijenjang pendidikan SMA tidak dilakukan. Jumlah jam untuk siswa SMK hanya bertambah sekitar 2 jam per minggu. Khusus di SMK, penyesuaian jenis keahlian akan disesuaikan dengan kebutuhan pasar atau tren saat ini. Namun seluruh siswa SMK ditiap jurusan akan mendapatkan mata pelajaran umum.

Kurikulum pendidikan baru ini akan diterapkan pada tahun ajaran 2013/2014. Namun kurikulum ini akan mulai berlaku untuk kelas 1 dan 4 sekolah dasar, dan VII SMP, baik negeri yang dikelola Kemendikbud maupun Kementerian Agama dan juga sekolah swasta, sedangkan lainnya bertahap. Hal ini dikarenakan kelas yang lebih tinggi sedang mempersiapkan ujian nasional. Harapannya, tiga tahun akan datang semua tingkatan sudah menggunakan sistem ini.

Seputar Wacana Penerapan Kurikulum Baru

Kurikulum nasional tercantum dalam pasal 38 UU Sistem Pendidikan Nasional No 20/2003. Dari kurikulum nasional itulah setiap satuan pendidikan dapat melakukan pengembangan sesuai relevansinya. Tahun 2013-2014, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berencana menggulirkan kurikulum baru sebagai penyempurnaan kurikulum pendidikan saat ini. Hingga saat ini, pembahasan seputar penataan kurikulum masih terus dilakukan. Perombakan kurikulum ini penting dilakukan dimana salah satu fokus penerapannya agar anak-anak mempunyai waktu untuk membangun karakter diri. Pada perubahan kurikulum nanti, siswa Sekolah Dasar (SD) tidak akan dibebani dengan mata pelajaran bermuatan ilmu pengetahuan. Anak-anak ini akan lebih diasah untuk pembentukan sikap dan ilmu dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung.

Ada enam mata pelajaran yang akan diberikan pada siswa kelas I-III SD, yaitu Pendidikan Agama, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, Seni Budaya, serta Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Mata pelajaran seperti Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) rencananya akan dihapuskan, namun tidak akan dihapus begitu saja, tetapi akan diintegrasikan dengan mata pelajaran lain. Sementara itu, untuk kelas 4 dan 6 SD sampai tulisan ini dibuat, masih belum disepakati.

Sementara untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA), kepastian mengenai mata pelajaran yang akan diberikan masih dibicarakan. Pembahasan perubahan kurikulum ditargetkan selesai akhir tahun ini. Rencananya, kurikulum baru ini akan mulai disosialisasikan dan diuji publik sebelum Februari 2013 dan mulai diberlakukan pada tahun ajaran 2013-2014. Nantinya kurikulum baru ini akan menitikberatkan pada mata pelajaran yang membentuk sikap untuk siswa SD, mengasah keterampilan untuk siswa SMP dan membangun pengetahuan untuk siswa SMA.

Dalam uji publik nanti, masyarakat punya kesempatan untuk mengkritik dan memberi saran, lalu tim akan merampungkan untuk dilaporkan kepada Wapres. Tentang waktu pelaksanaan kurikulum baru itu, ditargetkan kurikulum baru sudah mulai dapat diterapkan pada tahun ajaran baru 2013. Rancangan perbaikan kurikulum itu mengandaikan perubahan persentase pembelajaran akademik dengan pendidikan karakter yang diatur seimbang. Kurikulum yang baru nanti akan terkait dengan tiga kompetensi terpenting yakni attitude, skill dan knowledge (ASK) dengan penekanan yang berbeda di setiap jenjang pendidikan. Prinsip pembelajaran yang akan dipegang nanti juga harus mengedepankan observasi, pengayaan, pengolahan, dan presentasi.